Dzikir terbagi ke dalam dua macam: Dziikir hati dan dzikir lisan.
Masing-masing keduanya mempunyai pijakan dalil dari Al-Quran dan Sunnah.
Berdzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan melafalkan huruf perhuruf
secara lantang (bersuara). Karenanya,d zikir jenis ini tidak mudah untuk
dipraktekkan dalam setiap saat. Sebab pada saat melakukan jual beli di
pasar dan yang sejenisnya sama sekali akan mengganggu seorang yang
sedang berdzikir. Dengan demikian, otomatis lisannya akan berhenti
berdzikir.
Berbeda halnya dengan dzikir hati, yaitu berdzikir dengan
mengkonsentrasikan diri pada suatu makna (di dalam hati) yang tidak
tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang
berdzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apa pun juga.
Berdzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara
Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan
Dzkir jenis ini adalah cara berdzikir yang paling utama
Jenis dzikir ini banyak diamalkan oleh para tokoh
Oleh karena itulah, para pembesar Tarekat Naqsyabandiyyah lebih memilih
dzikir hati. Juga karena hati merrupakan tempat pengawasan Allah, tempat
bersemayamnya iman, tempat bersumbernya rahasia, dan tempat
bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya
menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan
jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah
Saw..
Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak
terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu pula ibadah yang menjadi
tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam
hatinya). Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh
anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati
sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh
anggota tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka
keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman
merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus.
Allah Swt. berfirman, Mereka itulah orang-orang yang Allah telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka (QS Al-Mujâdilah [58]: 22).
Dan firman-Nya, Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa (QS Al-Hujurât [49]: 3).
Firman-Nya pula, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu (QS Al-A‘râf [7]: 20).
Yakni, berdzikir di dalam hatimu. Ini berdasarkan firman Allah, Dan
mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tiada
menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” (QS Al-Mujâdilah
[58]: 8). Allah Swt. berfirman pula, Berdoalah kepada Tuhanmu dengan
berendah diri dan suara yang lembut (QS Al-A‘râf [7]: 55).
Dari ‘Âisyah r.a., beliau berkata bahwa Nabi Saw. pernah bersabda,
“Zikir (dengan tak bersuara) lebih unggul daripada dzikir (dengan
bersuara) selisih tujuh puluh kali lipat. Jika tiba saatnya hari kiamat,
maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal
makhluk-makhluk-Nya sesuai amalnya. Para malaikat pencatat amal datang
dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka,
‘Lihatlah apakah ada amalan yang masih tersisa pada hamba-Ku ini?’ Para
malaikat itu menjawab, ‘Kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang
kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya.’ Allah lalu berkata
lagi (pada hamba-Nya itu), ‘Kamu mempunyuai amal kebaikan yang hanya Aku
yang mengetahuinya. Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu
itu berupa zikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR Al-Baihaqî).
Dalam beberapa kitab yang memuat kompilasi hadis sahih, Nabi Saw
bersabda, “Allah Swt berfirman, ‘Aku ini (bertindak) sesuai dengan
prasangka hamba-Ku pada-Ku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku.
Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya
sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka Aku
akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia daripada
orang banyak saat ia mengingat-Ku.” (HR Al-Bukhârî dan ahli hadis
lainnya).
Abû ‘Awânah dan Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam masing-masing kitab
kumpulan hadis sahih mereka, juga Al-Baihaqî sebuah hadis berikut,
“Sebaik-baik zikir adalah zikir dengan samar (khafî) dan sebaik-baik
rezeki adalah rezeki yang mencukupi.” Nabi Saw. juga bersabda, “Zikir
yang tidak terdengar oleh malaikat pencacat amal (maksudnya zikir khafî)
mengungguli atas zikir yang dapat didengar oleh mereka (zikir jahrî)
sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR al-Baihaqi). Menurut ulama yang
mentakhrij hadis tersebut, hadis itu dinilai sebagai hadis hasan li
ghairihi. Hadis-hadis lainnya yang berbicara tentang keutamaan zikir
khafî masih banyak sekali.
Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan,
“Berzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan
ruhani. Dengan zikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka
dan menjadi tameng dari bahaya-bahya yang merongrong mereka. Karena
bahaya (musibah) yang datang pada seorang hamba lalu hatinya kaget
terperanjat dan langsung mengingat Allah, maka itu akan mencegahnya dari
segala sesuatu yang tidak diinginkannya.” Orang-orang yang telah
makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah,
maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di
dalamnya.”
Syaikh Abû Sa‘îd Al-Kharrâz berkata, “Jika Allah ingin menjadikan
seorang hamba sebagai kekasih-Nya, maka Dia akan membukakan pintu
mengingat-Nya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam
mengingat-Nya, maka Dia akan membukakan pintu keakrakaban-Nya lalu
diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira.
Setelah itu, Dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid.
Kemudian disingkapkan tirai yang menutupi-Nya. Hamba itu lalu dimasukkan
ke suatu ruangan khusus tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat
kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran
dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk.
Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu
berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai
pengakuan-pengakuan dirinya.”
Khâlid bin Ma‘dan berkata, “Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di
mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena dunia. Selain itu, ia juga
memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan
untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut
menjadi orang yang baik, maka Dia akan membukakan kedua mata hamba itu
yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu
melihat rahasia-rahasia kegaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika
Allah menginginkan hamba-Nya pada hal yang sebaliknya (bukan kebaikan),
maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada di dalam hatinya.”
Ahmad bin Hadhrawaih juga berkata, “Hati adalah wadah. Jika wadah itu
penuh dengan kebajikan, maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di
dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu
penuh dengan kebatilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan
bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.”
Dzu Al-Nûn Al-Misrî berkata, “Satu jam dengan hati yang baik lebih utama
daripada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja tidak masuk
ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung, maka bagaimana
para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam
hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?!” Seorang agung yang telah
menggapai tahapan makrifat, Abû Al-Hasan Al-Syâdzilî berkata, “Sebiji
atom amalan-amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriyah
(anggota tubuh) sebesar gunung.”
Berbeda halnya dengan zikir hati, yaitu berzikir dengan
mengkonsentrasikan diri pada suatu makna (di dalam hati) yang tidak
tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang
berzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apa pun juga. Berzikirlah
mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara Tanpa diketahui oleh orang
lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan Zikir jenis ini
adalah cara berzikir yang paling utama Jenis zikir ini banyak diamalkan
oleh pNaqsyabandiyyah lebih memilih zikir hati. Juga karena hati
meripakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayamnya iman, tempat
bersumbernya rahasia, dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik
akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang
buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang
telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw.. Karenanya, seorang hamba tidak
dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus
diimaninya. Begitu pula ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika
tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya).
Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota
tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri
dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota
tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan
seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan
sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus. Allah Swt.
berfirman, Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan
keimanan dalam hati mereka (QS Al-Mujâdilah [58]: 22). Dan firman-Nya,
Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk
bertakwa (QS Al-Hujurât [49]: 3). Firman-Nya pula, Dan sebutlah (nama)
Tuhanmu dalam hatimu (QS Al-A‘râf [7]: 20). Yakni, berzikir di dalam
hatimu. Ini berdasarkan firman Allah, Dan mereka mengatakan pada diri
mereka sendiri, “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang
kita katakan itu?” (QS Al-Mujâdilah [58]: 8). Allah Swt. berfirman pula,
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (QS
Al-A‘râf [7]: 55). Dari ‘Âisyah r.a., beliau berkata bahwa Nabi Saw.
pernah bersabda, “Zikir (dengan tak bersuara) lebih unggul daripada
zikir (dengan bersuara) selisih tujuh puluh kali lipat.
Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua
perhitungan amal makhluk-makhluk-Nya sesuai amalnya. Para malaikat
pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah
berkata pada mereka, ‘Lihatlah apakah ada amalan yang masih tersisa pada
hamba-Ku ini?’ Para malaikat itu menjawab, ‘Kami tidak meninggalkan
sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan
menulisnya.’ Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), ‘Kamu
mempenyuai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya. Aku akan
membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa zikir dengan
sembunyi (tak bersuara).” (HR Al-Baihaqî). Dalam beberapa kitab yang
memuat kompilasi hadis sahih, Nabi Saw bersabda, “Allah Swt berfirman,
‘Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Aku
selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam
hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di
tengah-tengah orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tengah-tengah
orang banyak yang lebih mulia daripada orang banyak saat ia
mengingat-Ku.” (HR Al-Bukhârî dan ahli hadis lainnya). Abû ‘Awânah dan
Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadis sahih
mereka, juga Al-Baihaqî sebuah hadis berikut, “Sebaik-baik zikir adalah
zikir dengan samar (khafî) dan sebaik-baik rezeki adalah rezeki yang
mencukupi.”
Nabi Saw. juga bersabda, “Zikir yang tidak terdengar oleh malaikat
pencacat amal (maksudnya zikir khafî) mengungguli atas zikir yang dapat
didengar oleh mereka (zikir jahrî) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR
al-Baihaqi). Menurut ulama yang mentakhrij hadis tersebut, hadis itu
dinilai sebagai hadis hasan li ghairihi. Hadis-hadis lainnya yang
berbicara tentang keutamaan zikir khafî masih banyak sekali. Sebagian
orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan, “Berzikir dengan
hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan zikir
itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng
dari bahaya-bahya yang merongrong mereka. Karena bahaya (musibah) yang
datang pada seorang hamba lalu hatinya kaget terperanjat dan langsung
mengingat Allah, maka itu akan mencegahnya dari segala sesuatu yang
tidak diinginkannya.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata,
“Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup
hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.”
Syaikh Abû Sa‘îd Al-Kharrâz berkata, “Jika Allah ingin menjadikan
seorang hamba sebagai kekasih-Nya, maka Dia akan membukakan pintu
mengingat-Nya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam
mengingat-Nya, maka Dia akan membukakan pintu keakrakaban-Nya lalu
diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira.
Setelah itu, Dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid.
Kemudian disingkapkan tirai yang menutupi-Nya. Hamba itu lalu dimasukkan
ke suatu ruangan khusus tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat
kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran
dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk.
Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu
berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai
pengakuan-pengakuan dirinya.” Khâlid bin Ma‘dan berkata, “Seorang hamba
pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat
fenomena dunia. Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak
di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika
Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka Dia akan
membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya.
Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia
kegaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika Allah menginginkan hamba-Nya
pada hal yang sebaliknya (bukan kebaikan), maka Allah tidak
memperdulikan apa yang ada di dalam hatinya.” Ahmad bin Hadhrawaih juga
berkata, “Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan, maka
cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari
anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebatilan, maka
kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota
tubuhnya.” Dzu Al-Nûn Al-Misrî berkata, “Satu jam dengan hati yang baik
lebih utama daripada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja
tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung, maka
bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di
dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?!” Seorang agung yang
telah menggapai tahapan makrifat, Abû Al-Hasan Al-Syâdzilî berkata,
“Sebiji atom amalan-amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan
lahiriyah (anggota tubuh) sebesar gunung
Sumber:
Pondok Habib dan
Syafi'i
Bagaimana cara kita membuka dan menelusuri Hijab kita dan Allah.??
A. Membina Peribadi
1. Perbaikan Akhlak Firman AlLah swt. dalam Al-Quran (S. Al-Kahfi: 110)
"Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh (memperbaiki akhlak) dan janganlah ia
mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada Tuhan (bersih dari segala
kotoran hawa nafsu)"
Al-Ghazali di dalam kitabnya Kimyaus-Saadah menyatakan
"tujuan perbaikan akhlak ialah membersihkan qalbu dari kotoran hawa
nafsu dan amarah hingga hati menjadi suci bersih bagaikan cermin yang
dapat menerima Nur cahaya Tuhan".
2. Sabar Firman AlLah swt. dalam Al-Quran (S. Al-Baqarah: 45 - 46)
"Jadikanlah sabar dan Salat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang
demikian itu adalah tugas berat kecuali bagi orang yang khusyu".
Orang - orang yang khusyu' itu ialah orang yang menyukai bahwa mereka
itu akan bertemu dengan AlLah dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya"
Menurut Al-Ghazali, 'Sabar' ialah meninggalkan segala macam pekerjaan
yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendirian agama yang
bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata - mata kerana
menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat"
Pembahagian Sabar:
a) Sabar Disiplin / Taat
i) Sabar sebelum taat, ialah niat yang ikhlas, tujuan yang benar, merasa
berkewajipan atas keyakinan agama dalam menerima peraturan berupa
perintah atau larangan.
ii) Sabar melaksanakan taat, ialah melaksanakan kewajipan sampai
selesai, berkala atau terus menerus dengan penuh tanggungjawab dan
kesungguhan.
iii) Sabar setelah taat, ialah tidak merasa bangga dengan selesainya
pekerjaannya, tidak iri hati atau kekurangan atau kelebihan orang lain,
tidak ria' untuk dikagumi hasil usahanya.
b) Sabar Berkewajipan. Mengetahui sesuatu kewajipan tidak cukup untuk
dapat dikerjakan tanpa adanya kesabaran dan sebaliknya mengetahui
sesuatu larangan belum tentu dapat meninggalkannya tanpa adanya
kesabaran.
c) Sabar menurut hukum terbahagi:
Sabar untuk menjauhkan diri dari segala yang haram,hukumnya 'wajib'.
Sabar untuk menjauhkan diri dari segala pekerjaan makruh, hukumnya 'sunat'.
Sabar dalam menjalankan hukuman kerana pelanggaran maka hukumnya 'harus'.
Sabar membela kehormatan atau hak milik hukumnya 'haram'. Sifat sabar
dalam keadaan ini dinamakan 'sabar Saja'ah' (sabar berani). Firman AlLah
dalam Al-Quran (S. Al-Anfaal: 46) "Bersabarlah kamu sekalian,
sesungguhnya AlLah beserta mereka yang sabar".
3) Syukur. Berterima kasih kepada AlLah atas segala nikmat pemberianNya.
Erti Syukur, keadaan seseorang mempergunakan nikmat yang diberikan oleh
AlLah itu hanya untuk membuat kebajikan.
4) Ridha bil Qadha. Ridha ertinya rela menerima dengan apa yang
ditentukan dan ditaqdirkan AlLah kepadanya. Rela berjuang atas jalan
AlLah mencari semata - mata keridhaan AlLah (Ibtighaa MadhatilLah).
Kesimpulan Sabar, Syukur dan Ridha adalah tiga sifat terpuji yang sangat
bernilai tinggi, dapat membawa kepada ketinggian budi pekerti dan
akhlak dan merupakan kekuatan yang dapat menolong untuk berkemahuan
keras, berjiwa besar dan bertanggungjawab.
Pendidikan Tasauf pertama - tama dengan pembaikan akhlak, mencapai
tingkat demi tingkat yang lebih tinggi, dari Muslim biasa kepada
Mukminin kepada Muhsinin kepada Muttaqin kepada Mukarrabin kepada Arifin
- mengenal dan merasai Tuhan yang sungguh - sungguh. Dengan sifat -
sifat yang tersebut, mereka memasuki latihan - latihan jiwa dan
mujahadah dengan Sistem berikut :
Takhalli - mensuci bersih diri dari segala dosa lahir dan dosa bathin.
Tahalli - mengisi diri dengan segala sifat yang terpuji.
Tajalli - memperoleh hakekat kenyataan Tuhan kerana suci bersihnya hati
mereka mencintai AlLah. B Latihan Rohani dan Tingkat - Tingkat Yang
Harus Dilalui
1. Tujuan Takhalli ialah:
a]. Membersihkan diri dari kotoran hati / sifat - sifat tercela.Firman
AlLah dalam Al-Quran (S. As-Sams: 9 & 10) "Sesungguhnya
berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugilah orang
yang mengotori jiwanya".
Sifat - sifat yang mengotori jiwa / hati
Hasad - irihati
Haqad - dengki / benci
Suuz-zan - sangka buruk
Kibir - sombong
Ujub - merasa sempurna diri dari orang lain
Riya - mempamerkan kelebihan diri
Suma' - cari nama atau kemasyuran
Bukhul - bakhil / kikir
Hubbul Mal - cinta kebendaan
Tafahur - membanggakan diri
Ghadab - pemarah
Ghibah - pengumpat
Namimah - bicara belakang orang
Kizib - dusta
Khianat - munafik Maksiat Lahir - segala perbuatan yang dikerjakan oleh
anggota badan manusia yang merosak orang atau diri sendiri sehingga
membawa pengorbanan benda - benda, fikiran dan perasaan. Maksiat Bathin -
lebih berbahaya kerana tidak kelihatan dan kurang disedari dan sukar
dihilangkan.
b]. Cara membersihkan jiwa / hati Tersingkapnya tabir / hijab yang
membatasi diri dengan Tuhan ialah suci bersihnya diri / jiwa dari
kotoran - kotoran maksiat lahir dan maksiat bathin. Menurut Ahli Tarekat
ada 4 dinding / hijab yang membatasi diri dengan Tuhan dan ada 4 juga
jalan yang dapat membuka dinding / hijab itu.
i) Tingkat Pertama : Suci dari Najis dan Hadas - Bersih dari najis maka
wajib bersuci dengan air atau berinstinja dengan tanah. - Suci dari
hadas besar (keluar mani) maka wajib mandi. - Suci diri dari hadas kecil
maka wajib berwudhu. * Seorang yang hendak menghubungkan diri dengan
Tuhan maka wajib bersih badannya, bersih pakaiannya, bersih tempatnya,
bersih lahir dan bathinnya.
ii) Tingkat Kedua : Suci Dari Dosa Lahir Ada 7 anggota badan yang membuat dosa lahir yang disebut maksiat, iaitu :
Mulut - dusta / ghibah
Mata - melihat yang haram
Telinga - mendengar cerita kosong
Hidung - menimbulkan rasa benci
Tangan - merosak
Kaki - berjalan membuat maksiat
Kemaluan - bersyahwat / berzina (termasuk makan yang haram).
iii) Tingkat Ketiga : Suci dari Dosa Bathin Ada 7 alat pembuat dosa
bathin yang dinamakan 7 Lataif (Petikan : Pengantar Ilmu Tarekat oleh
Abubakar Aceh)
Latifatul Qalby - berhubungan jantung jasmani. Letaknya dua jari di
bawah susu kiri. Di sinilah letaknya sifat - sifat kemusyrikan,
kekafiran dan ketahyulan dan sifat - sifat iblis. Untuk mensucikannya
zikir dengan membaca 5000 kali - AlLah, AlLah. Pada tingkat ini hati
diisi dengan Iman, Islam, Ihsan, Tauhid dan Makrifat.
Latifatu Roh - berhubungan Rabu jasmani. Letaknya dua jari di bawah susu
kanan. Di sinilah letaknya sifat Bahimiyah (binatang jinak) iaitu sifat
menurut nafsu. Untuk mensucikannya zikir dengan dipalu sekeras -
kerasnya 1000 kali - AlLah, AlLah.
Latifatus-Sirri. Letaknya dua jari di atas susu kiri. Di sinilah
letaknya sifat 'Syabiyah' (binatang buas) iaitu sifat zalim / aniaya,
pemarah dan pendendam. Untuk mensucikannya zikir dengan membaca 1000
kali - AlLah, AlLah. Pada tingkat ini hati diisi dengan sifat kasih
sayang dan ramah - tamah.
Latifatul Khafi - dikenderai Limpah jasmani. Letaknya dua jari di atas
susu kanan. Di sinilah letaknya sifat 'Syaitanuyah' iaitu hasad /
dengki, munafik dan khianat. Untuk mensucikannya berzikir 1000 kali
membaca AlLah, AlLah dengan dipalukan sekeras - kerasnya. Pada tingkat
ini hati diisi sifat Syukur dan Sabar.
Latifatul Akhfa - berhubungan empedu jasmani. Letaknya di tengah -
tengah dada. Di sinilah letaknya sifat ria, takbur / sombong, ujub /
membanggakan diri dan Sum'a / cari nama atau kemasyuran. Untuk
mensucikannya zikir 1000 kali membaca AlLah, AlLah. Pada tingkat ini
hati diisi sifat Ikhlas, Khusyu', Tadarru Tafakkur.
Latifatun-nafsun-Natiqa. Letaknya di antara dua kening. Di sinilah
letaknya 'nafsu ammarah' penghalang besar untuk menciptakan perbaikan
masyarakat. Untuk mensucikannya zikir 1000 kali membaca AlLah, AlLah.
Pada tingkat ini hati diisi dengan sifat Tenteram dan Pikiran Tenang.
Latifah kullu Jasad - kenderai seluruh tubuh jasmani. Dalam Latifah
inilah terletak sifat jahil dan ghaflah (kejahilan dan alpa). Untuk
mensucikannya hendaklah dizikirkan 1000 kali - AlLah, AlLah sehingga
mengalir zikir disekujur badan jasmani sehingga tiada tempat untuk sifat
kebendaan / kejahilan dan kelalaian / Ghaflah. Pada tingkat ini hati
diisi pula sifat Ilmu dan Amal.
iv) Tingkat Keempat : Suci Hati Rabbaniyah Yang dimaksudkan Latifatul
Qalby di sini bukan jantung jasmani tetapi "Latifatur Rabbaniyah" adalah
Roh yang suci yang paling halus dan memerintah serta mengatur badan dan
anggota badan jasmani. Dialah hakekat diri yang sebenar diri. Induk
kepada latifah - latifah lain. Sabda RasululLah s.a.w.
"Di dalam tubuh anak Adam ada segumpal daging apabila ia baik, maka
baiklah seluruh jasad dan apabila ia rosak maka rosaklah seluruh jasad.
Ketahuilah, dia itu ialah 'hati'.
Pada Latifah Rabbaniyahlah tempat jatuhnya penilikan AlLah kepada
manusia. Menurut Kaum Sufi, bahawa kehidupan dan alam penuh dengan
rahsia - rahsia tersembunyi. Rahsia tertutup oleh dinding/hijab tetapi
bisa terbuka dan dapat tersingkap, dapat melihat atau merasai atau
berhubungan dengan terang ter-rahsia asal kita menempuh jalannya. Jalan
itulah dinamakan 'Tarekat'. Ahli Tarekat menempuh jalan didikan 3
tingkat iaitu
Takhalli,
Tahalli dan
Tajalli.
2. Tujuan Tahalli ialah:
Mengisi diri dengan sifat - sifat terpuji / menyinari hati.
a) Dasar Perbaikan Akhlak. Kaum Sufi mengatur suatu ajaran untuk
memperbaiki tata kehidupan dan penghidupan manusia agar manusia itu
menjadi 'manusia wara' yang ikhlas dalam beribadat kepada AlLah, ikhlas
dalam pengabdian melayani masyarakat dan damai / berpartisipasi dalam
kehidupan. Firman AlLah dalam Al-Quran (S. An-Nahl: 90)
"Bahwa sesungguhnya AlLah memerintahkan untuk berlaku adil, berbuat
kebajikan, hidup berkeluarga. Dan melarang kekejian, kemungkaran dan
bermusuhan. Bahwa Tuhan mengajarkan kepada kamu sekalian (pokok - pokok
akhlak itu) agar kamu sekalian menjadi perhatian"
Ajaran itu menurut istilah sufi dinamakan: Takhalli, Tahalli dan
Tajalli. Sistem ajaran ini memerlukan latihan - latihan dan perjuangan
dengan tanjakan - tanjakan dari satu tingkat ke tingkat lebih tinggi
yakni dari mensuci bersihkan hati ke tingkat menyinari hati sampai dekat
diri kepada AlLah dalam keadaan Tajalli.
b) Sifat yang Mnyinari Hati / Jiwa. Sifat yang menyinari hati / jiwa
menurut Kaum Sufi dinamakan sifat - sifat terpuji. Menurut Al-Ghazali di
dalam kitabnya "Arbain fi Usulid-Din" antara sifat - sifat terpuji itu
ialah:
Taubat - menyesali diri dari perbuatan yang tercela
Khauf / Taqwa - perasaan takut kepada AlLah
Ikhlas - niat dan amal yang tulus atau suci
Syukur - rasa berterima kasih
Zuhud - hidup sederhana, apa adanya
Sabar - tahan diri dari segala kesukaran
Ridha - bersenang diri menerima keputusan AlLah
Tawakkul - menggantungkan diri, nasib kepada AlLah
Mahabbah - cinta kepada AlLah semata - mata
Zikrulmaut - selalu ingat mati Maka apabila manusia telah menaungi dan
mengisi hatinya dengan sifat - sifat terpuji itu maka hati menjadi cerah
dan terang dapat pula menerima cahaya dari sifat - sifat tadi.
c) Mendekatkan Diri kepada AlLah. Untuk mendekatkan diri kepada AlLah
perlu melalui apa yang lazim dikerjakan oleh Kaum Sufi iaitu
Kesempurnaan Agama Islam yang dapat dicapai dalam 4 tingkat.
i) Tingkat Pertama : Syariat Ertinya mengerjakan amal badaniyah daripada
segala hukum - hukum: shalat, puasa, zakat dan haji. Syariat adalah
peraturan - peraturan yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Tujuan
utama syariat ialah membangun kehidupan manusia atas dasar amar ma'ruf
dan nahi mungkar. Syariat membahagi ma'ruf kepada 3 kategori:
1. Fardhu atau wajib
2. Sunnat atau mustahab
3. Mubah atau harus
Selanjutnya syariat membahagi munkarat atas 2 bahagi iaitu :
1. Haram
2. Makruh
Peraturan - peraturan yang diatur oleh syariat itu adalah atas dasar
Quran dan Sunnah yang merupakan sumber hukum dalam Islam untuk
keselamatan manusia. Menurut Ahli Sufi, bahawa syariat itu baru
merupakan tingkat pertama menuju jalan kepada Tuhan. Tarekatlah yang
merupakan perbuatan untuk melaksanakan syariat itu. Apabila 'Syariat'
dan 'Tarekat' dikuasai maka lahirlah 'Hakekat' yang tidak lain daripada
perbaikan keadaan dan ehwal, sedang tujuan terakhir adalah 'Makrifat'
iaitu mengenal Tuhan yang sebenar - benarnya, serta mencintainya sebaik -
baiknya. Syariat ialah pengenalan perintah dan Hakekat ialah pengenalan
pemberi perintah.
ii) Tingkat Kedua : Tarekat Dasar - dasar pokok mengenai Tarekat antara lain:
1. Sebuah Hadis Qudsi menyatakan : "Adalah Aku suatu perbendaharaan yang
tersembunyi, maka inginlah Aku supaya diketahui siapa Aku, maka
kujadikanlah makhluk: Maka dengan AlLah mereka mengenal Aku". Dasar
"Wihdhatul Wujud" yang menjadi faham Ahli Tarekat. Bahawa AlLah itu
permulaan kejadian, yang awalnya tiada permulaan. AlLah telah ada dan
tiada yang lain besertaNya. Dan kerana supaya zatnya dilihat pada
sesuatu yang bukan zatnya, sebab itulah dijadikan segenap kejadian
(Al-Khaliq).
2. Firman AlLah dalam Al-Quran (S.Al-Jin: 16)
"Dan bahawa jika mereka tetap (istiqamah) menempuh jalan itu "TAREKAT"
sesungguhnya akan Kami beri rezeki / rahmat yang berlimpah - limpah".
"Tarekat" adalah suatu sistem (tariqah) untuk menempuh jalan yang pada
akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan, dalam keadaan seseorang
dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya (ainul basirah). Ini didasarkan
atas pertanyaan Saidina Ali bin Abi Thalib kepada RasululLah: "Manakah
Tarekat yang sedekat - dekatnya mencapai Tuhan? Yang dijawab RasululLah
s.a.w. : "tidak lain daripada zikir kepada AlLah". "Syariat" mewajibkan
seseorang mengadap Kiblat dalam Shalat, maka "Tarekat" tidak sampai di
situ saja. Tarekat berpegang kepada Firman AlLah: "Sembahlah Aku". Yang
bermaksud semua ibadah dilakukan kerana tujuan untuk ber-Taqwa (takut)
kepada AlLah. Tetapi bukan setakat pengertian "syariat" iaitu
mengerjakan apa yang diperintah dan menjauhkan apa yang dilarang. Tetapi
menurut Ahli Tarekat Taqwa adalah perpaduan dari 4 sifat:
1. (ta) - Taubat
2.(qaf) - Qinaah atau khusyu'
3. (wauw) - Wara
4. (alif) - Ikhlas beribadah mencari keridhaan AlLah
iii) Tingkat Ketiga : Hakekat Syariat merupakan peraturan, Tarekat
merupakan pelaksanaan maka hakekat adalah tujuan pokok yakni pengenalan
Tuhan yang sebenar - benarnya. Menurut Tarekat, hati wajib menghadap
kepada AlLah berdasarkan ayat Quran: "Fa'buduny - sembahlah Aku".
Menurut kita menyembah Tuhan seolah - olah Tuhan terlihat, berdasarkan
Hadis: "Sembahlah Tuhanmu, seakan - akan engkau melihatnya, jika engkau
tidak melihatnya maka sesungguhnya Tuhan melihat kamu".
Menurut Makrifat, ialah mengenal AlLah untuk siapa dipersembahkan segala
amal ibadat itu. Yang dengan khusyu' seseorang hamba merasa berhadapan
dengan AlLah, ketika ini perasaan bermusyahadah berintai - intaian dan
bercakap - cakap dengan Tuhan seolah - olah AlLah berkata: "Innany Ana
AlLah - Aku inilah Tuhan yakni AlLah" maka kehadiran "hati" berkata:
"Anta AlLah - Engkaulah AlLah". Lalu AlLah berkata lagi: "Iqimis-shalata
lizikry - bershalatlah untuk mengingat akan Aku". Demikian "hakekat",
ialah membuka kesempatan bagaimana salik mencapai maksudnya, iaitu
mengenal Tuhan, Ma'rifatulLah dan Musyahadah Nur yang Tajalli.
Al-Ghazali menerangkan : "Bahawa Tajalli itu ialah terbuka Nur cahaya
yang ghaib bagi hati seseorang dan sangat mungkin yang dimaksudkan
dengan Tajalli ialah Mutajalli yang tidak lain daripada itulah AlLah".
iv) Tingkat Keempat : Ma'rifat. Ma'rifat adalah tujuan pokok, yakni:
mengenal AlLah yang sebenar - benarnya. Taftazany dalam kitabnya
"Syarhul Maqsid" menerangkan: "Apabila seseorang mencapai tujuan
terakhir dalam pekerjaan suluknya - ilalladan fillah, pasti dia
tenggelam dalam lautan tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam
pengawasan zat Tuhan dan sifatnya selalu dalam pengawasan sifat Tuhan.
Ketika itu orang itu fana dan lenyap dalam keadaan "masiwallah" apa yang
bersifat bukan AlLah. Dia tidak melihat wujud alam ini melainkan AlLah.
Al-Ghazali menerangkan: "bahawa hatilah yang dapat mencapai hakekat
sebagaimana yang tertulis pada Lauhin Mahfud, iaitu hati yang sudah
bersih dan murni. Alhasil, tempat untuk melihat dan Ma'rifat AlLah
adalah "HATI".
3. Tujuan Tajalli ialah:
Mencari Kenyataan AlLah. Firman AlLah dalam Al-Quran (S.An-Nur: 25)
"AlLah itu cahaya langit dan bumi"
Berlandaskan ayat ini Ahli Sufi yakin beroleh pancaran Nur AlLah
Tajallinya AlLah. Demikian AlLah Tajalli dengan af-al, asma' dan zatNya
yang tidak tersembunyi, "mutajalli min zatihi la yakhhfa". Dalam
menempuh jalan (tarekat) untuk memperoleh kenyataan Tuhan (Tajalli),
Ahli Sufi berusaha melalui ridha dengan latihan - latihan dan mujahadah
(perjuangan) dengan menempuh jalan, antara lain melalui dasar pendidikan
3 tingkat iaitu: Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Ada pula yang menempuh
jalan suluk dengan sistem "Muratabatu - thariqah" yang terdiri dari 4
tingkat: (seperti sistem yang dipakai oleh Tarekat Naqsabandiah) :
1. Taubat
2. Istiqamah : Taat lahir dan bathin
3. Tahzib : terdiri dari beberapa riadhah / latihan seperti puasa, mengurangi tidur dan menyendiri.
4. Taqarrub : mendekatkan diri kepada AlLah dengan berkhalwat, zikir terus - menerus.
Seterusnya maka sampailah salik pada Maqam Nihayah: Fana-uhu 'ala
baqa-ihi wa ghaya-tuhu 'ala hudu-rihi iaitu fana dalam kebaqaan AlLah
dan lenyap dalam kehadiran AlLah. Hal demikian bisa berhasil kerana
Tuhan Maha cahaya terhadap hambaNya dan Tuhan adalah sumber cahaya dan
Ilmu. Apabila Tuhan telah menembusi hati hambaNya dengan 'nur' dan
cahayaNya, maka berlimpah ruahlah Rahmat.
Petikan: Pengantar Ilmu Tarekat oleh H. Abubakar Aceh
: Sufiroad